Wisata Religi Di Kota Banjarmasin

Bagi anda yang ingin wisata religi,maka pastikan anda untuk mengunjungi wisata religi yang ada di Kota Banjarmasin,dengan rincian beberapa masjid dibawah ini yang wajib anda kunjungi:

Masjid Jami “Tuhfaturroghibin

Masjid Jami ‘Tuhfaturraghibin atau lebih dikenal dengan nama lain’ Masjid Kanas ‘adalah bangunan masjid dengan sejarah panjang. Lokasinya berada di sekitar Alalak Tengah, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.

Wisata Religi Di Kota Banjarmasin

Tuhfaturraghibin Masjid Jami memiliki keunikannya sendiri: ada hiasan nanas pada struktur bangunan. Arsitekturnya juga memiliki struktur campuran antara Timur Tengah, dengan Tradisi Budaya Banjar itu sendiri. Jual Kubah Masjid Di Banjarmasin

Sekilas, masjid ini sangat mirip dengan Masjid Jami ’Jingah River. Saat ini, masjid sudah terlihat kuat dan megah, dan itu akan menjadi simbol baru untuk wilayah Alalak.

Sejarah pembangunan Masjid Jami ‘Tuhfaturroghibin

Pembangunan Masjid Jami ‘Tuhfaturroghibin pertama kali dilakukan pada 11 Muharram 1357 Hijriyah. Konstruksi ini diprakarsai oleh salah satu ulama Alalak, H. Mawan bin H.M Amin. Dikenal sebagai sarjana sufi, ia dikatakan sebagai salah satu keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, atau lebih dikenal sebagai “Datuk Kelampayan”.

Untuk menghargai perjuangan salah satu cendekiawan ini, bangunan masjid yang kita lihat sekarang masih menggunakan beberapa bagian bangunan yang masih digunakan dengan tepat, yaitu bagian Pilar Soko Guru.

Masjid Jami ‘Banjarmasin

Masjid Jami ‘Banjarmasin atau juga dikenal sebagai Masjid Jami’ Sungai Jingah adalah masjid bersejarah di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Masjid dengan arsitektur Banjar dan kolonial (India), terbuat dari kayu besi, dibangun pada 1777.

 Meskipun termasuk dalam Kelurahan Antasan Kecil Timur, masjid ini, yang didominasi oleh kayu ulin alias kayu ulin, lebih identik dengan Masjid Jami Sungai Jingah. [1] Situs asli pembangunan masjid berada di tepi Sungai Martapura, setelah masjid sekarang dipindahkan ke Jalan Masjid Kelurahan Antasan Kecil Timur, Kota Banjarmasin pada tahun 1934.

Sebelum masjid dibangun, masyarakat Banjar mengalami kesulitan beribadah karena tidak ada masjid yang cukup besar untuk menampung kerumunan. Pemerintah kolonial Belanda, yang kehadirannya tidak disukai oleh orang Banjar, mengambil kesempatan untuk merebut hati orang-orang Banjar. Mereka berencana untuk menyumbangkan pendapatan pajak untuk pembangunan masjid.

Kebetulan pemerintah Belanda pada saat itu memiliki pendapatan pajak yang melimpah dari memeras rakyat Kalimantan, terutama dari hasil hutan seperti karet dan damar. Namun, orang Banjar dengan tegas menolak tawaran itu. Adalah ilegal bagi orang Banjar yang beragama Islam untuk menerima hadiah dari penjajah Belanda, terutama untuk pembangunan masjid.

Untuk mengatasi masalah ini, mereka bekerja secara mandiri dan bersama-sama membangun tempat ibadah. Tua dan muda, pria dan wanita bahu membahu untuk mengumpulkan uang. Beberapa orang telah menyumbangkan beberap petak tanah, lalu ada juga yang menyumbang perhiasan emas, atau bisa juga hasil pertanian, sehingga tidak lama setelah itu, sebuah situs seluas 2 hektar menampung masjid yang indah dan megah sebagai tempat ibadah dan kegiatan sosial lainnya.

Masjid Agung Sabilal Al Muhtadin

Megah dengan menara yang menjulang di jantung kota, Masjid Agung Sabilal Muhtadin adalah salah satu landmark kota Banjarmasin. Masjid ini digunakan sebagai sarana ibadah dan merupakan pusat ibadah Islam di sana.

Masjid, yang namanya memberi penghormatan kepada Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjary (almarhum) spiritual agung, dibangun di tanah luas bekas asrama tentara Tatas. Di era kolonialisme Belanda, tempat ini dikenal sebagai Benteng Tatas atau Benteng Tatas.

Secara keseluruhan, bentuk masjid cukup unik dengan penempatan kubah bundar datar pada kotak persegi panjang berbentuk geometris bangunan. Di sekeliling bangunan ada empat menara kecil, masing-masing setinggi 21 meter dan satu menara utama setinggi tidak kurang dari 45 meter.

Gaya arsitektur Timur Tengah yang diadopsi oleh masjid dapat dilihat pada elemen dekoratif kaligrafi yang diukir pada bahan tembaga gelap dengan ayat-ayat dari Quran dan Asma’ul Husna yang ditulis dalam bahasa Naski, Diwani, Riqah-, Tsulus- dan gaya Kufik, yang menambah nilai estetis untuk memuji Yang Mahakuasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *